Ramadhan #10 : Tentang Sebuah Jawaban

Asal doa yang baik-baik, dan sekian banyak persoalan yang kita tanyakan kepada Allah, saya percaya tiada satu pun yang terlepas dari pengetahuan dan jawaban dari-Nya. Ayuhlah, kita semua jujur seikhlasnya tentang berapa banyak doa-doa yang kita lantunkan, dan sebenarnya kita merasai ada doa kita yang Allah berikan, dan ada yang Allah beri tidak sesuai dengan kehendak kita. Jujurnya, jika kita bertanya kepada diri sendiri pernahkah kita merasa doa yang satu itu tidak dimakbulkan dan kita kecewa. Tiba-tiba sesuatu berlaku dalam hidup kita dan kita itu terasa, “Eh, mungkinkah ini jawaban kepada doa yang pernah aku minta kepada Allah dulu? He didn’t answer my du’a exactly like I want, but He answered it in a better way!”

Namun tidak selalu doa itu terjawab menurut seperti apa yang kita mahu dan bayangkan. Ada doa, Allah makbulkan sesuai permintaan kita. Ada doa, Allah makbulkan perlahan-lahan sesuai pengetahuan-Nya. Dan hal itu sangat memerlukan kesabaran dari kita. Yang selalunya kita tidak sabar lalu merintih merajuk dengan Allah, bahawa Allah itu kononnya tidak mendengar doa-doa kita. Kita melatah, bahawa kononnya Allah itu tidak mengasihi dan membiarkan kehidupan kita sendiri.

Kadang-kadang jawaban yang Allah bagi kepada doa-doa kita itu tidak selalunya membungakan hati. Sebab itu saya kata tadi selalunya menuntut kesabaran. Ada waktu sampai kita sendiri pernah terlupa dengan doa-doa yang pernah kita mohonkan kepada Allah, dan bila Allah menjawab doa tersebut dengan cara-Nya, ternyata kita yang belum cukup bersedia untuk menerima apa yang pernah kita mohon kepada Allah sebelum ini. Familiar? Pernah terjadi? Silakan saja jawab kepada diri sendiri.

Allah Maha Penyayang, kan. Sentuh dada masing-masing, pejamkan mata. Katakan kepada diri sendiri, Allah itu Maha Penyayang. Sayangnya kepada hamba-Nya melebihi sayang seorang ibu kepada anaknya. Saya percaya Allah tidak akan pernah membiarkan saya meski dugaan dan ujian di dunia tetap tidak akan berhenti. Saya percaya Allah sentiasa ada untuk saya.

Kita ini, kalau memperolehi apapun sesuai yang tidak tepat seperti apa yang kita harapkan, jangan terus melatah. Jangan terus menyalahkan kehidupan serta takdir Allah. Kita belajar untuk tenang dan menerima apa yang Allah bagi. Semoga kita semuanya menjadi orang-orang yang tenang, bijak, pandai, berbakti dan menjadi orang yang mendahulukan Tuhannya dalam setiap langkah.

Semoga Allah menerima amalan
darimu dan dariku
saudaraku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *