Demi Pena

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Since the past few months, I have been writing less and less.

“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” – al Qalam : 1

Saya, sudah kurang menulis sekarang ini. Saya tahu, saya perasan. Kalau dulu, buku nota dan pen selalu ada di tangan. Selalu, walau ke mana.

Apa sahaja yang terlintas di kepala, dilakarkan melalui diksi di dalam buku catatan.

Tapi sekarang, semua itu semakin tiada. Buku nota tersimpan di dalam laci. Pen khas untuk mencatat segala idea spontan, tersadai di sebelah buku tersebut.

Waktu ini, jangan kata buku dan pena.
Malah idea selalu tersekat, terkadang langsung tiada!

Dan sekarang, mana semua itu? Mana gerakan tangan yang selalu bergerak untuk mencatat sesuatu yang ada di kepala, dan dicakna untuk melihat-Nya? Mana?

Kesal juga pada diri.

One thought on “Demi Pena

  1. Assalam…
    Allahurabbi..
    Benar…=’)
    Diri ini juga semakin layu menulis….
    Semakin layu berkarya…

    Ya Allah…
    Aku rindu…
    Aku rindu seperti dulu…
    Kemana hilangnya semua itu….
    Tersekat di sesak dada yang sentiasa teruji dek nafsu dunia….

    Hasbiallah wanikmal wakil… =’)

      (Quote)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *